Monday, May 24, 2010

Indeks Bergerak di Teritori Negatif

Sentimen yang negatif dari bursa pasar global selain krisis hutang Yunani bertambah dengan berita kurang kondusif dari Spanyol. Langkah pemerintah setempat untuk menyelamatkan bank yang terseret kredit macet properti mengirim kekhawatiran akan kesehatan perbankan tidak saja di negara tersebut namun hingga keseluruh kawasan. Berita yang negatif dari benua seberang juga turut menggoncang bursa saham di Amerika. Bursa indeks saham Dow Jones, S&P
dan Nasdag ditutup di teritori merah. Perlemahan juga menyebar hingga di bursa saham kawasan asia dimana bursa saham yang telah bertransaksi aktif bergerak melemah seperti bursa saham Nikkei Jepang, Taiwan, Korea dan Singapura.

Perlemahan di bursa saham tampaknya tidak banyak mengubah harga komditas dunia. Meski harga minyak bumi dan minyak kelapa sawit menurun namun harga komoditas metal seperti timah dan nikel mengalami penguatan. Kekhawatiran kondisi ekonomi lebih tercermin pada pergerakan mata uang dimana USD dan Yen menguat terhadap EUR. Mata uang rupiah pada pagi hari ini cenderung melemah daripada USD.

Berita dari global akan memperngaruhi indeks bursa dan kami melihat indeks bursa nasional juga akan terpengaruh berita dari emitten di bursa. Indeks akan bergerak di kisaran 2560-2610 dan dan ditutup melemah.

MORNING NEWS

IQplus (24/5) - Saham-saham AS merosot pada Senin waktu setempat, di tengah kekhawatiran baru atas krisis utang Eropa, dipicu oleh penyelamatan bank tabungan Spanyol. Dow Jones Industrial Average kehilangan 126,82 poin (1,24 persen) menjadi berakhir di 10.066,57, memperpanjang kerugian besar pekan lalu ketika indeks blue-chip menyusut lebih dari empat persen dan sempat jatuh di bawah titik sensitif 10.000 poin. Indeks komposit Nasdaq merosot 15,49 poin (0,69 persen) menjadi 2.213,55 sementara pasar lebih luas indeks Standard & Poor`s 500 turun 14,04 poin (1,29 persen) menjadi 1.073,65.

Pasar dibuka pada catatan bearish (lesu) setelah bank sentral Spanyol akhir pekan lalu menyelamatan bank tabungan daerah CajaSur, membebani Spanyol keuangan publik yang sudah tegang. Penyelamatan CajaSur datang karena pemerintah Spanyol memperkenalkan putaran baru langkah penghematan untuk membawa defisit publik ke sebuah batas zona euro tiga persen dari produk domestik bruto, dari 11,2 persen tahun lalu. Bailout (dana talangan) utang tersebut memperbarui kekhawatiran zona euro yang telah menyeret pasar turun dalam beberapa pekan terakhir. Ini memipicu "putaran lain kekhawatiran mengenai kesehatan sistem keuangan di negara itu meskipun ada rencana penyelamatan besare Uni Eropa/IMF," kata Frederic Dickson, kepala analis pasar di DA Davidson & Co. "Investor akan terus mengikuti opera sabun yang berlangsung di Eropa dan pergerakan euro dalam menanggapi perubahan harapan investor tentang bagaimana situasi utang habis di Yunani, Portugal, dan Spanyol," katanya.


IQplus (24/5) - Harga minyak stabil di New York pada Senin, menghentikan penurunan tiga pekan yang telah membuat harga jatuh 20 persen di tengah kekhawatiran pasar terhadap krisis utang zona euro dan pemulihan ekonomi global yang rapuh. Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Juli, naik tipis 17 sen menjadi 70,21 dolar per barel, dari penutupan pasar Jumat. Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Juli turun 51 sen menjadi berakhir pada 71,17 dolar per barel. Kontrak New York dibuka dengan kenaikan malu-malu dan mengambang di sekitar netral sepanjang sesi.

"Pasar masih sangat fluktuatif," kata Antoine Halff dari Newedge Group. "Indikator-indikator ekonomi AS telah cukup bagus belakangan ini, tetapi apa yang meberatkan pasar sekarang ini adalah krisis keuangan Eropa," katanya.


Rumor Bursa
BHIT Bakal Dikerek Menuju Rp200


INILAH.COM, Jakarta - Saham PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) bakal dikerek menuju level Rp200 dalam waktu dekat terkait rampungnya akuisisi tambang.

Kabar di pasar b erhembus, Bhakti akan menjaminkan saham perseroan selain salah satunya saham bonus dan penerbitan saham baru. Langkah ini diambil perseroan untuk mendanai aksi korporasinya.

Pada penutupan perdagangan bursa kemarin harga saham BHIT ditutup koreksi menuju level Rp132. [san/cms]


Rumor Bursa
Cermati Saham Medco Energy

INILAH.COM, Jakarta - Kabar di pasar berhembus ada sejumlah bandar akan memburu saham PT Medco Energy International Tbk (MEDC) terkait rencana pemerintah mengumumkan Donggi Senoro.

Proyek Donggi- Senoro ini akan memberikan sinyal positif bagi perseroan. Selain itu, perseroan mulai agresif menjalin kongsi strategis dengan Pertamina untuk mengembangkan sejumlah blok migas melalui pola sama operasi.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan bursa kemarin harga saham MEDC ditutup koreksi menuju level Rp2.675. [san/cms]



REKOMENDASI SAHAM

Inilah Saham Astra yang Layak Diburu


JAKARTA. Sejumlah analis meramu rekomendasi grup Astra yang layak dikoleksi. Menurut Edwin Sebayang, saat ini ada dua saham grup Astra yang pantas di koleksi investor jangka panjang, mereka adalah PT Astra Internasional Tbk (ASII) dan PT United Tractors Tbk (UNTR).

"Performa keduanya akan sangat luar biasa di tahun-tahun kedepan," katanya. Dimana pendapatan ASII diproyeksikan mencapai Rp 118,23 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 12,55 triliun. Sedangkan UNTR diprediksi Edwin akan mengalami pertumbuhan 15% di tahun 2010. "Dimana pendapatannya akan mencapai 34,36 triliun dan net income-nya sebesar 4,29 triliun," jelas Edwin

Tak heran dengan harga yang terpangkas cukup dalam untuk dua saham ini, Edwin sangat menyarankan untuk beli kedua saham grup Astra ini. "Keduanya menarik sekali untuk dikoleksi di jangka panjang," pungkasnya.

Edwin memproyeksikan hingga akhir 2010 mendatang, ASII akan finish di posisi Rp 50.000 sementara UNTR di posisi Rp 21.050 per saham.

Untuk saham-saham grup Astra lainnya, Edwin melihat, jika investor sudah memilikinya, maka sebaiknya di hold saja. Walaupun tidak semenarik dua perusahaan diatas tapi kedepannya masih akan berkembang walaupun tak sepesat UNTR dan ASII.

Wakil Presiden Valbury Asia Future Nico Omer Jonckheere punya pendapat agak berbeda dengan Edwin. Menurutnya, saham grup Astra yang paling menarik hanyalah UNTR yang memiliki sektor bisnis alat berat dan batubara. "Mereka yang akan paling diuntungkan," katanya.

Selain UNTR, Nico melihat AALI juga bisa menjadi pilihan. Karena dalam kurun waktu lima tahun kedepan, komoditas akan bergerak secara signifikan. Terlebih AALI selalu memberikan dividen yang bagus bagi para pemegang sahamnya.

Sementara untuk ASII, Nico melihat, dalam jangka awaktu hingga lima tahun kedepan, harga bahan baku yang digunakan ASII akan melonjak. Dan ini tidak akan terlalu menarik lagi. Ini juga terjadi pada saham AUTO. Walaupun sebenarnya AUTO memiliki potensi untuk naik secara signifikan karena industrinya sendiri masih sangat bagus, tapi bayang-bayang kenaikan bahan baku terus menghantui prospek kedepannya.

Malahan Nico pun merekomendasikan untuk menjual secara mencicil saham-saham grup Astra yang dimiliki saat ini. Karena harga saham akan terus terkoreksi hingga akhir tahun. "Jadi buat apa beli sekarang jika kedepannya harganya akan jatuh juga," jelasnya. Nico merekomendasikan untuk membeli saham grup Astra di tahun depan. Dimana target harga UNTR yang dibuat Nico Rp 22.500, sementara ASII hanya Rp 41.100.

Anna Suci Perwitasari


IQplus (26/5) - Empat Bank spanyol berencana untuk dimerger. Bank Caja De Ahorros Del Mediteerano, Grupp Cajastur, Caja De Ahorros,de Santander dan Caja De Ahorros Monte sedang diajukan ke bank sentral spanyol untuk digabung. Bank-bank di Spanyol sedang diusahakan untuk merger guna meningkatkan kecukupan modal mereka. "Sebagian mereka hampir bangkrut," kata Rafael Pampillon kepala analis IE Business School di Madrid. Kekhawatiran bahwa krisis keuangan Yunani akan menyebar ke negara lain seperti Spanyol telah membuat kekhawatiran baru di pasar keuangan dunia.



Bantahan ‘Rights Issue’ Manjur Kikis Tekanan Jual BUMI?

INILAH.COM, Jakarta – Manajemen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membantah akan melakukan penawaran umum terbatas atau rights issue. Namun apakah bantahan ini manjur menahan tekanan jual pada perdagangan hari ini.

"Tidak ada alasan BUMI untuk melakukan rights issue. BUMI belum ada rencana untuk melakukan rights issue," ujar Vice President Investor Relation BUMI Dileep Srivastava lewat pesan singkat yang diterima INILAH.COM, kemarin sore.

Manajemen BUMI, lanjut Dileep, membantah akan melepas 20% kepemilikan saham BUMI di PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID).

Gara-gara isu inilah saham BUMI terus merosot hingga menyenguh level terendahnya turun Rp345 menjadi Rp1.780 pada penutupan perdagangan saham Senin (24/5). Anjloknya saham BUMI kemarin sekaligus menjadi pemicu pelemahan IHSG sebesar 0,51% ke level 2.609,61.

Melemahnya saham BUMI juga ikut menjerumuskan saham Grup Bakrie lainnya seperti saham PT Bakrieland Development (ELTY) turun Rp30 menjadi Rp129, PT Energi Mega Persada (ENRG) melemah Rp23 ke Rp96, dan PT Bakrie Telecom (BTEL) terkoreksi Rp3 menjadi Rp139 per lembar saham.

Demikian pula saham PT Darma Henwa (DEWA) turun Rp10 menjadi Rp70, PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) melemah Rp65 poin ke Rp335 dan PT Bakrie and Brothers (BNBR) turun Rp8 menjadi R[54 per lembar saham.

Menurut analis AM Capital, Yustian Hartono kemarin, CLSA melakukan penjualan terbesar, diikuti JP Morgan dan OSK Nusadana Securities Indonesia. Aksi jual terhadap saham BUMI ini dipicu rencana BUMI untuk melakukan rights issue di bawah harga pasar senilai Rp1.800 per saham.

Analis saham Milenium Danatama Securities Ahmad Riyadi memapakan saham BUMI tertekan akibat aksi investor asing yang banyak melakukan aksi jual. "Asing keluar dan membuat investor lokal panik," katanya.

Boleh jadi rumor tersebut telah membuat sejumlah investor asing melakukan aksi jual secara massal pada saham BUMI yang kemudian diikuti oleh investor-investor domestik.

Namun apakah investor hari ini masih akan menjauhi saham BUMI. Ada kekhawatiran bahwa otoritas bursa akan melakukan suspensi terhadap saham ini. Rumor rights issue itu jelas merugikan BUMI.

Investor khawatir jika harga rights issue jauh di bawah harga pasar tersebut jadi dilaksanakan. Ini juga menjadi indikasi bahwa perseroan menilai sahamnya sudah over value. Rumor negatif tampaknya masih menghantui saham BUMI sepanjang hari ini. [mdr]


IQplus (24/5) - PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp79,98 miliar per 31 Maret 2010, jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang merugi Rp27 juta. Demikian disampaikan Perseroan dalam laporan keuangannya yang telah diterbitkan, Selasa.

Perseroan juga berhasil mencatat laba usaha per 31 Maret 2010 sebesar Rp103,19 miliar, dibandingkan dengan rugi usaha pada periode yang sama pada 2009 Rp1,13 miliar.


IQplus (26/5) - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) hingga April 2010 membukukan penjualan superblok Kemang Village sebesar Rp1,3 triliun atau setara 70 persen dari total penjualan yang mencapai 1.100 unit apartemen. Direktur Lippo Karawaci Jopie Rusli di Jakarta, Senin mengatakan perseroan menargetkan hingga akhir 2010 seluruh unit akan terserap pasar. Optimisme ini didasari naiknya permintaan sektor properti tahun ini khususnya segmen grade A, termasuk apartemen.

"Hingga kini kami sudah bukukan penjualan sekitar 800 unit apartemen yang tersebar di lima tower," katanya. Sepanjang 2009, perseroan membukukan laba bersih Rp389,41 miliar, atau naik dari 2008 sebesar Rp370,87 miliar. Peningkatan laba bersih dikarenakan pertumbuhan yang signifikan pada bisnis Healthcare dan Large Scale Integrated Development.

Sunday, May 23, 2010

MORNING NEWS

Rumor Bursa
Northstar Tambah Saham di DOID

Northstar, tambang Persada Pte Ltd, diisukan telah menambha kepemilikan saham di Delta Dunia Makmur Tbk (DOID).

Pelaku pasar menyebutkan, langkah Northstar karena DOID mengurungkan rencana penerbitan rights issue lantaran gagal mengakuisisi PT Berau Coal dari Recapital Investment Group. Awalnya, Northstar sebetulnya menambah kepemilikan saham DOID tapi pemegang saham lainnya ada persetujuan untuk akuisisi tambang lainnya.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan bursa kemarin harga saham DOID ditutup melemah Rp690. [san/cms]






Rumor Bursa
Cermati Saham Citatah

(inilah.com/Wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta - PT Citatah Tbk (CTTH) dikabarkan mendapatkan kontrak kedua proyek Ceasar Palace Extention, Las Vegas, Amerika Serikat dan proyek lanjutkan apartemen Hyundai, Korea Selatan.

Total nilai kontrak sekitar US$10 juta atau setara dengan Rp92 miliar. Momentum tersebut akan dimanfaatkan oleh bandar untuk mengakumulasi saham Citatah menuju level Rp100-150 dalam jangka pendek.

Pada penutupan perdagangan bursa kemarin, harga saham CTTH ditutup melemah pada posisi Rp66. [san/cms]





ELTY akan Tertekan
Agustina Melani

(inilah.com/Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta - Harga saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) diprediksikan akan mengalami tekanan cukup kuat terkait rencana penawaran saham umum terbatas IV yang dilakukan perseroan.

"Rencana rights issue yang dilakukan perseroan membuat saham terdilusi cukup besar. Pelaku pasar hati-hati menyikapi rencana rights issue perseroan, dan tunggu hingga rencana aksi korporasi perseroan selesai dilakukan," ujar Kepala Riset PT BNI Securities Norico Gaman, saat ditemui seusai acara perayaan ulang tahun investor club IDX, Sabtu (22/5).

Lebih lanjut ia mengatakan, rencana rights issue yang dilakukan perseroan akan membuat tekanan jual cukup kuat. Seperti diketahui, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan menawarkan saham umum terbatas sebanyak 33 miliar saham dengan target dana Rp5,4 triliun. Harga penawaran saham umum terbatas sekitar Rp160. Dana hasil rights issue akan digunakan untuk ekspansi usaha seperti mengakusisi sejumlah lahan.

Norico menambahkan, saham properti masih agak sensitif. Pelaku pasar mencermati kenaikan suku bunga pada semester kedua 2010. Kenaikan suku bunga ini dipicu oleh rencana kenaikan tarif dasar listrik dan inflasi pun diprediksikan meningkat. Hal tersebut berdampak terhadap sektor properti. [mel/hid]



IQplus (24/5) - PT Pembangunan Perumahan (PP) Tbk berhasil menyelesaikan pembangunan
terminal peti kemas Palaran di Samarinda, Kalimantan Timur, dengan nilai pekerjaan Rp262,1 miliar. Direktur Utama PT PP (Persero) Tbk Musyanif di Jakarta, Minggu, mengatakan, TPK Palaran mampu melayani angkutan barang peti kemas (Container) 5.000 DWT.

TPK Palaran merupakan proyek milik Pemerintah Daerah Samarinda dengan Pelindo melayani seluruh pelayaran peti kemas nusantara. "TPK Palaran akan bermanfaat bagi Pemerintah Kota Samarinda, Kalimantan Timur dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalimantan Timur," kata Musyanif. Proyek TPK Palaran senilai Rp262,1 miliar merupakan proyek percontohan dan satu-satunya di Indonesia yang dibangun dengan sistem konsorsium antara Pemerintah Kota Samarinda, PT Pelabuhan Indonesia IV (Pelindo IV) dan PT Pelabuhan Samudra Palaran (Samudra Indonesia Group).

Proyek TPK Palaran dimulai sejak 4 Juni 2008 yang dikerjakan sepenuhnya oleh PTPP. Luas area TPK Palaran 125.700 meter persegi dan mampu menampung kapal sampai dengan 5000 DWT dengan luas cargo 54.000 meter persegi.


Laba Bersih BLTA Melonjak 134,097% di Q1-2010
Susan Silaban

INILAH.COM, Jakarta - PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA) berhasil mencetak laba bersih pada kuartal I-2010 sebesar 134,097% menjadi RpUS$24,902 juta, dibandingkan periode yang sama sebelumnya rugi US$73,032 juta.

Demikian penjelasa resmi manajemen BTA dalam keterbukaan informasi BEI, Minggu (23/5).

Melonjaknya laba bersih ini ditopang dari pendapatan usaha meningkat 1,62% menjadi US$161,553 juta pada kuartal I-2010, dibandingkan periode sebelumnya hanya US$158,977 juta. Namun demikian, beban penjualannya pun naik dari US$109,453 juta menjadi US$130,995 juta.

Peningkatan ini juga didukung dari berhasilnya perseroan meraih untung transaksi derivtif sekitar US$37,135 juta, dibandingkan sebelumnya hanya US$19,099 juta, pendapatan dari pos investasipun meningkat menjadi US$1,532 juta, dibandingkan sebelumnya hanya US$611.000.

"Kami pun masih menderita kerugian kurs mata uang sekitar US$8,726 juta, dibandingkan sebelumnya meraih untung sekitar US$29,504 juta," katanya.



IQplus (24/5) - PT Pertamina (Persero) dan PT Medco Energi Internasional Tbk menyatakan kesiapannya menjalankan proyek pengembangan gas Senoro di Sulawesi Tengah, sesuai keputusan pemerintah yakni kombinasi ekspor dan domestik. Demikian disampaikan Vice President Communication Pertamina Basuki Trikora Putra dan Direktur Proyek Medco Lukman Mahfoedz saat dihubungi di Jakarta, Minggu. Menko Perekonomian Hatta Rajasa sebelumnya mengatakan, pemerintah akan segera mengambil keputusan proyek Senoro dengan opsi 70 persen hasil produksi gas untuk ekspor dan 30 persen buat konsumsi domestik yakni pabrik pupuk dan pembangkit listrik. Sumber di pemerintahan menyebutkan, keputusan Senoro akan dilakukan pemerintah pada Selasa.

IQplus (24/5) - Dividen Bank BRI sebesar Rp132,08 per lembar akan dibagikan pada 15 juli 2010. Keterangan perseroan senin menyebutkan cum dan ex di pasar reguler/negosiasi pada 28-29 juni 2010 dan di pasar tunai pada 1-2 juli 2010. Total dividen Bank BRI 2009 sebesar 30 persen dari laba 2009 namun sebesar Rp45,74 telah dibagikan pada 16 desember 2009.

Wednesday, May 19, 2010

MORNING NEWS

IQPlus (20/5) - Saham-saham AS mengurangi kerugian besar pada Rabu, karena berita positif ekonomi AS dibayangi oleh kekhawatiran investor terhadap peraturan Jerman untuk membatasi spekulasi pasar. Dow Jones Industrial Average turun 66,58 poin (0,63 persen) menjadi 10.444,37 pada penutupan. Indeks blue-chip sebelumnya kehilangan sebanyak 186 poin. Indeks komposit teknologi Nasdaq jatuh 18,89 kaya poin (0,82 persen) ke 2.298,37 sementara pasar lebih luas indeks Standard & Poor`s 500 turun 5,75 poin (0,51 persen) menjadi 1.115,05. Saham global merosot pada Rabu dan euro turun ke titik terendah empat tahun, terpukul oleh kontrol perdagangan tiba-tiba Jerman.

Dalam sebuah langkah sepihak, badan pengatur pasar sekuritas Jerman mengeluarkan larangan pada apa yang disebut "naked short-selling" dalam saham dari 10 lembaga keuangan dan obligasi pemerintah zona euro, dalam upaya untuk mengakhiri volatilitas pasar. Naked short selling memungkinkan investor untuk menjual sekuritas yang mereka belum memiliki, dengan harapan mereka dapat membeli kemudian pada harga yang lebih rendah, sehingga mereka dapat untung. Para pengeritik mengatakan praktek artifisial itu dapat mendorong harga saham turun.

"Pasar ekuitas AS mengikuti pasar Eropa, perdagangan di bawah flatline (garis datar) karena pengumuman larangan short-selling kemarin oleh Jerman ekonomi terbesar di Eropa terus memperburuk keprihatinan zona euro dan mengurangi optimisme untuk pemulihan ekonomi yang berkelanjutan," kata analis Charles Schwab.


IQPlus (20/5) - Krisis utang Eropa dan pemulihan ekonomi yang rapuh di Amerika Serikat dan Jepang membuat lebih menarik bagi perkembangan cepat China untuk merevaluasi mata uangnya, kata seorang pejapat senior departemen keuangan AS, Rabu. Kondisi perekonomian di China, khususnya kenaikan harga, juga membuat sebuah keadaan untuk mata uang yuan yang lebih kuat, kata David Loevinger, senior koordinator departemen keuangan untuk urusan China. "Nilai tukar yang lebih kuat dan lebih fleksibel akan membantu mereka mengelola tantangan yang mereka hadapi dalam perekonomian mereka sendiri," katanya kepada wartawan jelang pembicaraan kunci tingkat kabinet AS-Cina minggu depan, di mana masalah mata uang akan menjadi "prioritas utama" untuk Amerika.


IQPlus (20/5) - Indeks harga konsumen AS secara tak terduga turun di april 2010 untuk pertama kali dalam lebih dari setahun, sehingga diperkirakan bank sentral AS akan tetap mempertahankan suku bunga mendekati nol. Indeks turun 0,1 persen yang merupakan pertama kali sejak maret 2009, demikian pengumuman departemen perburuhan AS di Washington. Analis memperkirakan kenaikan sebesar 0,1 persen.


IQPlus (20/5) - Harga minyak sedikit pulih pada Rabu, di tengah harapan pemulihan kuat AS setelah jatuh ke level terendah dalam lebih dari tujuh bulan. Federal Reserve mengatakan, pertumbuhan ekonomi AS akan mencapai antara 3,2 dan 3,7 persen tahun ini, naik dari perkiraan 2,8 hingga 3,5 persen yang dibuat pada Januari. Data resmi terbaru juga mengungkapkan penurunan stok energi AS, sinyal permintaan lebih besar di negara konsumen energi terbesar dan beberapa dukungan pinjaman terhadap sebagian besar pasar yang "bearish" (lesu).

Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman Juni, merosot pada Rabu pagi, menjadi 67,90 dolar per barel tingkat terendah sejak 30 September 2009 karena dolar menguat dan kekhawatiran terhadap dampak dari krisis zona euro terhadap permintaan energi. Kontrak tersebut pulih kembali menjadi berakhir di New York pada 69,87 dolar, naik 46 sen dari Selasa, setelah enam sesi berturut-turut turun. Minyak mentah Brent North Sea, London, untuk penyerahan Juli kehilangan 74 sen menjadi 73,69 dolar per barel.


IQPlus (20/5) - Harga minyak diprediksi akan turun kelevel terendah dalam delapan bulan yakni level $66 per barel di New York untuk kontrak teraktif Juni, demikian menurut Cameron Hanover. Minyak yang memang sudah banyak mengalami penurunan diperkirakan akan tetap melanjutkan penurunannya, kata Peter Beutel dari Cameron. "kami perkirakan Juli akan mulai turun," katanya.
"Investor disarankan untuk keluar dari long position, dan harus melakukan sesuatu dengan kontrak yang mereka miliki," katanya.


Saham Indal Aluminium (INAI) Akan Dikerek ke Level Rp475

Hal ini dipicu perseroan akan mendapatkan dana segar dari mitra strategis untuk pembangunan pabrik di Jawa Timur. Perseroan banyak mendapatkan proyek penyediaan aluminium untuk pembangunan gedung bertingkat dan ekspor tahun ini.

Pada transaksi perdagangan saham kemarin, saham INAI ditutup melemah ke level Rp345 atau melemah 15 poin dengan volume 68,53 juta saham.


Cermati Saham Ramayana(RALS)


INILAH.COM, Jakarta - Dikabarkan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) akan masuk pasar hypermarket di luar pulau Jawa.

Dengan ekspansi perseroan tersebut, harga saham Ramayana Lestari Sentosa akan dikerek ke level Rp1.000 dalam jangka pendek. Seperti diketahui, Ramayana fokus pada segmen department store. Dikabarkan juga, perseroan akan mendapatkan dana investasi dari investor strategis asing.

Pada transaksi perdagangan saham kemarin, harga saham RALS ditutup di kisaran Rp750 atau senilai Rp795,79 juta. [cms]


IQPlus (20/5) - Pengamat ekonomi, Ryan Kiryanto, memproyeksikan respon pasar akan sepenuhnya positif menerima Menteri Keuangan (Menkeu) baru yakni Agus Martowardoyo. "Reaksi pasar saya perkirakan akan positif besok setelah penunjukkan Agus Martowardoyo sebagai Menkeu," kata Ryan Kiryanto di Jakarta, Rabu. Economist BNI itu mengatakan, sosok Agus Martowardoyo sampai sejauh ini dikenal sebagai orang yang dekat dengan dunia usaha sehingga termasuk populer di kalangan investor dan pasar keuangan. Kepopuleran itu ditunjang dengan pengalamannya sebagai banker yang setiap saat selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan dunia usaha atau sektor riil saat masih menjabat sebagai Dirut Bank Mandiri. "Ini akan memperkaya proses pengambilan kebijakan dari sisi fiskal," katanya.

Ryan juga menilai penunjukkan Agus Martowardoyo sebagai pengganti Sri Mulyani merupakan keputusan terbaik. Menurut dia, semua pihak jangan melihat ke arah sosok Menkeu-nya saja tetapi pada paket alias duet pimpinan teratas Kementerian Keuangan yang baru saja diputuskan
Presiden yakni antara Agus Martowardoyo sebagai Menkeu dan Ani Ratnawati (mantan Dirjen Anggaran) sebagai Wakil Menkeu. "Jangan hanya dilihat sosok Menkeu-nya tetapi lebih pada duet ini, saya yakin pasar akan memberikan reaksi yang baik besok," katanya. Ia berpendapat, duet tersebut dari sisi regulasi akan mampu melanjutkan proses kesinambungan kebijakan yang dibuat Menkeu sebelumnya. "Reformasi dan kebijakan yang dilakukan Sri Mulyani akan terus berlanjut," demikian Ryan Kiryanto.


IQPlus (20/5) - PT Nusantara Infrastruktur Tbk (META) menyampaikan bahwa, saat ini Perseroan sedang melakukan pengembangan usaha, "Perseroan sedang menyiapkan rencana corporate action berupa pembelian atas 52% saham yang dimiliki oleh PT Jakarta Lingkar Beratsatu (JBL) yang diharapkan dapat terealisasi pada tahun 2010 ini", jelas Corporate Secretary META, Danni Hasan terkait dengan peningkatan harga saham META pada periode 11 -18 Mei 2010 sebesar Rp32 per saham dengan kenaikan volume transaksi sebesar 3.730.750 saham, dan kenaikan frekuensi sebesar 104 kali.


IQPlus (20/5) - Indika Energy menganggarkan belanja modal sebesar $93 juta tahun ini terutama untuk infrastruktur dan energi "Belanja modal sebesar $93 juta sudah disetujui tahun lalu namun jika ada kontrak baru bisa saja membengkak menjadi $130-140 juta." kata Aziz Armand direktur keuangan perseroan. Perusahaan ini juga mengincar proyek senilai $700 juta dari Pupuk Kaltim. Indika menargetkan produksi batu bara sebesar 29 juta ton tahun ini naik dari 24,5 ton tahun sebelumnya.


IQPlus (20/5) - PT Indika Energy Tbk (INDY) akan membagikan dividen tahun 2009 yang sebesar Rp69,68 per saham atau seluruhnya berjumlah Rp362.835.085.000. Keterangan perseroan Kamis, menyebutkan cum dan ex di pasar reguler/negosiasi pada 8 dan 9 Juni 2010, sedangkan di pasar tunai pada 11 dan 14 juni 2010. Sementara, tanggal pembayaran dividen tunai INDY pada 25 Juni, dan tanggal daftar pemegang saham yang berhak dividen (recording date) pada 11 Juni 2010.


IQPlus (20/5) - Pembayaran dividen PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) akan dilasanakan pada 28 Juni 2010 Keterangan perseroan Kamis, menyebutkan cum dan ex di pasar reguler/negosiasi pada 9 dan 10 Juni 2010, sedangkan di pasar tunai pada 14 dan 15 juni 2010. Sementara, tanggal daftar pemegang saham yang berhak dividen (recording date) pada 14 Juni 2010. Diketahui, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) telah menyetujui untuk pembagian dividen tunai tahun 2009 sebesar 15% dari laba bersih yang sebesar Rp 132,255 miliar. Nilai per sahamnya sekitar Rp 1 per saham.


IQPlus (20/5) - PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) akan bagi dividen tunai sekitar 40% dari seluruh laba bersih yang diperoleh pada tahun buku 2009 atau Rp20.625.000.000,-, dengan demikian setiap saham TOTL akan memperoleh pembagian dividen tunai sebesar Rp7,5 per saham. Menurut keterangan Perseroan, pembayaran dividen tunai akan dilakukan pada hari Senin, 28 Juni 2010, sedangkan cum dan ex dividen di pasar reguler/negosiasi pada 9 dan 10 Juni 2010, sementara, cum dan ex dividen di pasar tunai 14 dan 15 Juni 2010.


Beli Saham yang Sudah Terkoreksi Tajam!
Natascha & Asteria


INILAH.COM, Jakarta – Indeks saham masih berpotensi melemah. Namun, investor bisa melakukan pembelian atas saham-saham yang sudah anjok cukup dalam, seperti INCO, PTBA, UNTR, DILD dan BTEL.

Alex Soedarto, analis pasar modal Minapadi Investama menilai, indeks saham hari ini masih akan tertekan. Isu negatif eksternal terus menggoyang pasar. “Sementara dari dalam negeri, Menkeu baru yang diumumkan tidak sesuai ekspektasi pasar,” katanya kepada INILAH.COM, Rabu (19/5) petang.

Menurutnya, momentum technical rebound indeks sebenarnya masih kuat. Hal ini dapat dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan akumulasi atas saham-saham unggulan.

Namun, dengan potensi koreksi lanjutan, Alex menyarankan investor menahan diri hingga 1-2 hari mendatang. "Mungkin hari Jumat sudah bisa dilakukan aksi beli,” ujarnya.

Di tengah kondisi ini, Alex menyarankan investor melakukan pembelian di saham-saham yang sudah anjlok cukup dalam. Beberapa saham yang direkomendasikan adalah PT International Nickel Indonesia (INCO), PT TB Bukit Asam (PTBA) dan PT United Tractor (UNTR). “Sinyal pembalikan arah (reversal) saham-saham ini sudah terihat, setelah koreksi sebelumnya yang cukup dalam,” paparnya.

Menurutnya, sentimen sektor komoditas sebenarnya tidak terlalu bagus. Hal ini mengingat harga energi yang berada di level terendahnya. Namun secara teknikal, indeks sudah jatuh terlalu dalam. Sehingga terbentuk sinyal pembalikan arah. “Aksi jual asing atas saham-saham komoditas juga mempercepat saham sampai di level bottom,“ ulasnya.

Saham lain pilihan Alex adalah PT Dharmala Intiland (DILD). Selain pergerakannya yang belum terlalu banyak, kemajuan proyek emiten di sektor properti ini cukup bagus. Terindikasi dari peningkatan penjualan pada kuartal pertama 2010.

Sedangkan saham telekomunikasi PT Bakrie Telecom (BTEL) mendapat perhatian terkait mergernya Telkom Flexi dan Esia. Kondisi ini menjadi sentimen positif bagi operator CDMA terbesar di Indonesia, terutama karena dapat memangkas biaya sewa BTS, yang berarti ada efisiensi biaya.”Meski sebaiknya, merger flexi dan esia ini diwujudkan menjadi perusahaan baru,” pungkasnya.

Pada perdagangan Rabu (19/5) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 104,702 poin (3,69%) ke level 2.729,48. Perdagangan di Bursa Efek Indonesia mencatatkan volume transaksi sebesar 5,54 miliar lembar saham, senilai Rp 4,985 triliun, dengan frekuensi 115.777 kali. Sebanyak 27 saham naik, 190 saham turun, dan 42 saham stagnan.

Tuesday, May 18, 2010

MACROECONOMY & DEBT MARKET WEEKLY REPORT

Nilai tukar Euro kembali melemah pada pembukaan perdagangan minggu ini, dimana terkoreksi sangat dalam yang mencapai level terdalam selama empat tahun terakhir. USD meroket ke level 1.227/EUR setelah sempat menyentuh USD1.223. Pelemahan EUR tersebut terjadi karena pelaku pasar sekarang memfokuskan pada dampak dari upaya penghematan anggaran negara di kawasan Eropa terhadap pemulihan dan prospek pertumbuhan ekonomi ke depan. Walaupun Uni Eropa dan IMF berkomitmen untuk menyediakan dana talangan senilai hampir USD 1 trilyun, tapi pasar finansial Eropa yang diikuti global belum terlalu yakin terhadap intervensi tersebut terhadap penyelesaian krisis utang. Hal itu karena pelaku pasar masih menganggap akumulasi utang negara- negara Eropa memerlukan jaminan yang lebih besar.

Secara kasar kami menghitung outstanding debt dari Yunani, Portugal, Irlandia, Spanyol, dan Italia adalah sebesar lebih dari EUR 3 trilyun atau (USD 3.6 trilyun). Jika terjadi skema yang terburuk, maka jaminan USD 1 trilyun tidak akan cukup menutup gap tersebut.

Pada minggu ini, pergerakan EUR akan terkonsentrasi pada momen kritis hari Rabu nanti, dimana Yunani akan diwajibkan membayar utang yang jatuh tempo sebanyak EUR 8.5 milyar. Pasar akan mengamati dan menunggu bagaimana Yunani memenuhinya. Jika mereka meminta restrukturisasi, maka hal ini semakin menjungkalkan EUR dan menyebarkan sentimen negatif kembali terhadap pasar finansial Eropa dan global.

Seiring dengan pasar finansial domestik yang masih dalam masa surut mengikuti perkembangan global, nilai tukar Rupiah juga terkena dampak koreksi jangka pendek akibat penguatan Dollar AS terhadap hampir semua mata uang. Kami melihat respon negatif pasar finansial Asia terhadap situasi di Eropa menandakan fenomena decoupling belum akan muncul, karena pasar Eropa sebagai basis produk-produk ekspor dapat mengalami penurunan dan mengancam perbaikan level pertumbuhan ekonomi di emerging market Asia.

Walaupun kami menilai kondisi makroekonomi Indonesia akan mengalami perbaikan yang impresif pada tahun ini, tapi pengaruh krisis Eropa akan menjadi batu sandungan paling utama dalam menggerakan kinerja balance of payment di tahun ini. Kami memperkirakan aksi jual Rupiah masih akan terjadi dan berpeluang membawa IDR melemah ke level 9,200/USD pada minggu ini.

Pergerakan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) pada minggu kemarin relatif flat untuk semua tenor, dimana pada akhir minggu untuk SUN 1-tahun dan SUN 5-tahun hanya bergerak 0-50 bps dan Yield SUN 10-tahun turun 120 bps ke level 8.73%. Kami melihat situasi perkembangan inflasi yang masih terkendali sampai bulan April kemarin membuat tekanan eksternal belum mampu mengkoreksi harga SUN. Akan tetapi pada minggu ini dimana Yunani akan disorot oleh pelaku pasar global karena utang pemerintah yang bertenor 10-tahun akan jatuh tempo pada hari Rabu. Kami memperkirakan pelaku pasar utang domestik akan langsung cepat bereaksi terhadap proses tersebut. Jika Yunani meminta restrukturisasi maka dampaknya akan meningkatkan resiko terutama pada instrumen utang jangka panjang dan akan menekan harga SUN di semua tenor. Akan tetapi jika Uni Eropa dan IMF konsisten dengan komitmennya untuk menyelamatkan Yunani dari kebangkrutan, maka harga SUN berpotensi untuk melanjutkan kenaikan pada minggu ini.

Sunday, May 16, 2010

United Tractor (UNTR) - PROMOSING FUTURE BUSINESS


In spite of the Komatsu sales volume decline by 28% YoY to 3,111units (FY09) the total consolidated income of UNTR still posted significant increase from IDR 27.90tn (FY08) to IDR 29.24tn (FY09) or equal to 4.80% YoY growth. The achievement was around 1.43% below our last year forecasts of IDR 29.66tn (FY09F). The huge drop of company's net revenue growth by 48.8% YoY, from around 53.60% (FY08) to only 4.80% (FY09) appeared do not significantly affecting UNTR's gross profit performance. Helped by the lower cost of revenue composition from around 80.29% (FY08) to 77.19% (FY09), the company's gross income climbed by 21.31% YoY to IDR 6.67tn (FY09).Following numerous efforts to reduce both the selling and general administration expenses, it had also brought UNTR to record strong Profit and Loss (P&L) and driven the operating income up by 24.29% YoY from IDR 4.15tn (FY08) to IDR 5.16tn (FY09). On the back of declining interest expenses from IDR 283.12tn (FY08) to IDR 188.47tn (FY09) and gain on foreign exchange of IDR 283.11tn (FY09) from a loss on foreign exchange of IDR 234.17tn (FY08) resulting UNTR's earning before tax jumped by 41.34% YoY to IDR 5.44tn (FY09). Despite the fact that the construction machinery business growth declined by 3.37% YoY, the increasing productivity from mining contracting business and the additional operating revenue of IDR 266.37tn (FY09) had helped company to book higher bottom line result from IDR 2.66tn (FY08) to IDR 3.81tn (FY09) or grew by 43.48% YoY.

In terms of segmentation performance, in the same period of full fiscal year of 2009, mining contracting was becoming the major revenue driver. In the same period, the division posted a higher contribution to UNTR's total consolidated revenue from 41.64% (FY08) to 52.73% (FY09) or equal to an increase from IDR 11.61tn (FY08) to IDR 15.41tn (FY09). The construction machinery as another company's revenue driver in the same period which it showed weaker performance or dropped by 3.37% YoY from IDR 17.00tn (FY08) to IDR 16.43tn (FY09), while company's mining business line declined deeper by 27.41% YoY from IDR
3.91tn (FY08) to IDR 2.84tn (FY09). The lower coal sold which was provided by Dasa Eka Jasatama (DEJ) mines from 3.7million tons (FY08) to 2.4million tons (FY09) was due to lower demand from coal export market. It was impacted by the global crisis which is believed to be the main reason behind the decline of the division revenue.Nevertheless the positive outlook which is supported by the potential of sustainable growth of domestic economy as well as stabilizing inflation and foreign exchange, it should become several factors that could potentially trigger a significant increase of demand. Moreover, UNTR's second mines Tuah Turangga Agung (TTA) that has been started its (trial) production last years, should also help company's mining division to post a higher performance by the end of this year. According to the internal management, the mines will start its full commercially operated in the first half of this year.

As of March 2010, UNTR' continued to maintain its performance. Supported with a higher mining construction machinery demand, the total Komatsu YTD (3 months) sales jumped by 93.94% YoY to 1.218units (3M10) compared to the same period of last year of 628unit (3M09). Mining sector still becomes the highest contributor to the construction machinery division performance. In the same period, mining posted around 697units (3M10) or increased 52.85% YoY, while Agro sector recorded a higher growth of 284.28% YoY from 70units (3M09) to
269units (3M10). In terms of month on month (MoM) result, mining and agro sectors continue to become the division revenue driver. Mining sector noted 91units higher to 485units (Mar10) and the agro sector increased by 8.73% YoY to 112units (Mar10) from around 103units (Feb10), while the remaining additional of 99units (Mar10) contributed from forestry sector and construction sector of 49units (Mar10) and 50units (Mar10), respectively.Mining contracting as company's another business line also showing a better performance. Company's coal production climbed to 18.6mn tons (3M10) vs 14.6mn tons (3M09), while overburden removal rose from 121mn bcm (3M09) to 153.8mn bcm (3M10). The DEJ mines also give significant improvement to the overall result. As of 3M10 the coal sales volume grew by 7.51% YoY to 744.000tons (3M10) compared to same period last year of 692.000tons (3M09). In terms of MoM performance, DEJ booked around 261.000tons (March10) vs 251.000tons (Feb10).

Supported with the sustainable increasing demand from construction machinery and company's mining business, the internal management targeted the fiscal year 2010 sales to reach IDR 33.62tn or equal to a growth rate of approximately 14.97% YoY . Mining contracting business is expected to become the revenue engine for this year or estimated to contribute around 60% to total UNTR's revenue.The prediction is slightly above our forecast of around IDR 16.72tn (FY10F) or equal to 52.19% of the total company's consolidated sales.

On the construction machinery business, the division is also expected to continue in maintaining its performance. We projected that the division could potentially record around 6.5% growth YoY to IDR 17.50tn (FY10F), bring the total consolidated revenue to potentially reach IDR 32.05tn (FY10F). The major revenue engine remain expected to contribute from mining sector (55%), while the remaining 45% will be coming from agro sector (22%), construction (14%) and forestry (9%), respectively.In terms of sales volume, the company is expected to record around 4.000units (FY10F) or climbed by 29.03% YoY from 3.111units (FY09). To support achieving the target, UNTR has launched a new excavator model of PC 200-8, PC 400-8 and PC 130-8 series. The PC 200-8 is expected to record 1.600unit of sales by the end of this year, or equal to around 30% from the total target of company's construction machinery division. With those new series, the company projected to maintain its market share at around 47%.

With the continuing effort to maintain its division performance, we continue to give our positive outlook to company's business prospect in the future. Helped by the potential increasing demand from construction machinery division should become one of the major catalysts that could help the total consolidated revenue to continue in posting a higher growth. The potential higher coal prices for this year compared to last year should also support UNTR's coal business to get significant benefit and record improving revenue. Although, of parts and services business is not become company's meaningful revenue machine in the past years, we still judge that in the near future the division could potentially experiencing a significant growth and increasing its contribution to UNTR's consolidated revenue. We also include the company's plan to acquire two mining companies in the middle of this year as our assumption for FY10 growth. Using Discounted Cash Flow Method with the terminal value growth assumption of 1% we found that UNTR's share should be traded between IDR 20.372 - IDR 21.203. Over the counter UNTR shares traded at IDR 18.350 or equal to a PE ratio of 15.72x or below the industry average of 21.23x. We continue to maintain BUY recommendation with target price of IDR 22.500 per share or around 22.61% potential upside from its current price of IDR 18.350 per share, as of May 14th, 2010.

Better profit in 1Q10 due to performance improvement


KIJA posted significant improvement in sales and service revenue by 103.4% yoy to Rp158.5 billion in 1Q10. The increase was mainly because of two factors. The first, is from electricity power revenue of Rp45.8 billion in 1Q10 compared to nothing in 1Q09. This is due to operation of gas power station at the end of 2009A. The second is KIJA recorded land sale of Rp25.9 billion in 1Q10 compared to nothing in 1Q09. But the cost of goods sold and service revenue jumped dramatically by 172.3% yoy to Rp100.5 billion. The cost for gas power station exceeded its revenue, mainly due to the depreciation cost. The revenue from the power station was not in full operation. The operating expenses increased by 59.1% yoy to Rp31.2 billion in 1Q10, thus the operating profit increased significantly by 26.9% yoy to Rp22.25 billion in 1Q10. Out of operating performance KIJA was benefited mostly by three factors. The first is, KIJA recorded forex gain of Rp18.1 billion in 1Q10 compared to forex loss of Rp44 billion in 1Q09. The other is, KIJA recorded gain of fixed asset disposals of Rp6.8 billion in 1Q10 compared to nothing in 1Q09. And the third one is, the interest expense declined by 36% yoy to Rp22.6 billion in 1Q10. Thus, KIJA was able to post net profit of Rp24.6 billion in 1Q10 compared to net loss of Rp59.7 billion in 1Q09.

KIJA is developing gas power station with total capacity of 130 MW. The objective is to give electricity supply sustainable without any interruption to its commercial clients. The station will be equipped by two gas turbines with one combined cycle. KIJA expects that the power station will be completed in 3Q10. The gas supply will be provided by PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. and PT Bayu Buana Gemilang, a subsidiary of a state owned company, Pertamina (Persero). KIJA already commissioned the operation at the end of 2009 although not in full capacity.The power station existence will be good for the company's future performance. Revenue contribution will be very significant since it is a strong demand in the market. In 1Q10 the contribution was 28% of total revenue. The figure will be higher along with the fully operation of the gas power station. On the other hand, the power station will be an attractive point for the industrial customers. They really need continuing electricity supply to support their production plans.

KIJA also support its industrial customers by providing dry port, namely Cikarang Dry Port. It offers one stop service for cargo handling and a logistics solution for international export and import, as well as domestic distribution. The dry port provides integrated port and logistics services with dozens of logistics and supply chain players, such as exporters, importers, carriers, terminal operators, container freight station, bonded warehouse, transportation, third party logistics (3PL), empty container depot, as well as banks and other supporting facilities. The company provides area of approximately 70 ha for the dry port.It is very good to attract any potential industrial customers by providing the dry port. The shipment process time can be reduced significantly. Thus, the export-import activities will be improved in the near term. The direct impact is any industrial customer will be able to meet their demand faster compared to the previous time.

After being successful in selling the 1st and 2nd industrial area, KIJA is in selling the 3rd industrial area located in Cikarang. The area will be equipped by many kind of supporting facilities such as standard factory building (SFB), theein one building (TOB) and supporting industrial building (SOB). Up to now the company already sold the area of approximately 44 ha.

We have positive outlook of KIJA's performance in the long future. The company provides gas power station for its industrial customers for securing the electricity supply. It has strong revenue portfolio, does not depend heavily on selling residential and industrial areas. Service and maintenance and also income from electricity power as recurring income contribute significantly to total revenue. Thus, it will be able to maintain the company's performance in the future. On the other hand, by providing gas power station and good service and maintenance will be very attractive for any potential customer. The location of KIJA which is in Cikarang area is also benefited industrial customers. Another attractive point of KIJA is the dry port which can accelerate the shipment of goods which are produced by industrial customers. We forecast that the company will record revenue of Rp763 billion and net profit of Rp72 billion in 2010F. The price target of KIJA is Rp310 by using NAV method. The recommendation is BUY.