Monday, April 26, 2010

Market Perspective

Selama pekan lalu IHSG menguat 46 poin atau 1,6% capai rekor ter-
tinggi baru di 2925 (diatas Double Tops 2916), dipimpin oleh saham
sensitif suku bunga dan komoditas ditengah-tengah kinerja interim
lebih baik dari konsensus, perkiraan deflasi April2010 dan mere-
danya kekhawatiran skandal Goldman Sachs, yang sempat memukul
indek bursa global termasuk Indonesia pada awal pekan ini. Dan
pada akhir pekan ini kekhawatiran default Yunani kembali merebak
di bursa global sehingga memicu aksi profit taking. Broker asing se-
lama pekan lalu tercatat sebagai net buyer sebesar Rp 231 miliar.
IHSG selama pekan ini diperkirakan berfluktuasi melemah 2833 -
2998 dengan taruhan pasar pada angka 2916 dan potensi profit tak-
ing membayangi indek dengan pertimbangan : Indikator stochastic
oscillator bergerak naik di area overbought (98), indikator MACD
bergerak turun dan muncul candle Bearish Dragonfly Doji. Fokus
pasar pekan ini : Data ekonomi AS (harga rumah, keyakinan kon-
sumen, FOMC, GDP, manufaktur), Aktivasi bailout Yunani, Kinerja
Q1/10 emiten.

Kinerja 1Q10 AKR Corporindo (AKRA)

AKRA mencatat peningkatan pendapatan yang signifikan sebesar 32,6% yoy
menjadi Rp2,43 trilyun pada 1Q10. Peningkatan penjualan terutama akibat
kenaikan volume penjualan BBM sebesar 35% yoy menjadi 258.502 kl yang
disertai dengan kenaikan harga minyak sebesar 26% yoy menjadi Rp5.404/liter.
Namun akibat kenaikan harga pokok penjualan yang lebih tinggi, laba kotor
mencatat penurunan 4,5% yoy menjadi Rp225,3 milyar pada 1Q10. Dengan
pergerakan beban usaha yang relatif flat, laba usaha mengalami penurunan
10,3% yoy menjadi Rp112 milyar. Pada level di luar operasional, AKRA mencatat
keuntungan kurs Rp19,2 milyar pada 1Q10 dibandingkan kerugian kurs Rp8,8
milyar pada 1Q09. Dengan ditunjang oleh penurunan hak minoritas sebesar 24%
yoy menjadi Rp13,5 milyar, laba bersih AKRA mengalami peningkatan yang
signifikan sebesar 60,7% yoy menjadi Rp70,3 milyar pada 1Q10.Kami memiliki
outlook positif terhadap kinerja AKRA beberapa tahun ke depan seiring dengan
pengembangan bisnis BBM yang menjadi bisnis utama perusahaan. Bisnis BBM
AKRA didukung oleh ketersediaan infrastruktur yang memadai seperti tank
terminal dan jetty. Brand image telah dikenal banyak oleh kalangan industri.

Melalaui anak usaha Sorini (SOBI) sebagai penghasil sorbitol yang banyak sekali
digunakan oleh kalangan industri untuk pemrosesan lebih lanjut. Untuk tahun
2010F kami perkirakan AKRA akan membukukan pendapatan Rp13,1 trilyun
dengan laba bersih Rp515,6 milyar. Target harga saham AKRA adalah Rp1.250
dengan menggunakan metode DCF. Rekomendasi: BUY.

AKR CORPORINDO
Rp milyar 1Q10 1Q09 Prbh
Penjualan 2.432,7 1.835,3 32,6%
Laba kotor 225,3 235,9 -4,5%
Laba usaha 112,0 124,8 -10,3%
Laba bersih 70,3 43,7 60,7%
Marjin kotor 9,3% 12,9%
Marjin usaha 4,6% 6,8%
Marjin bersih 2,9% 2,4%

Pergerakan Indeks Hari Ini akan Fluktuatif

Kemarin indeks mengalami kenaikan yang cukup signifikan sebesar 20 poin (0,6%) dan mencapai angka penutupan tertinggi baru sepanjang sejarah di level 2944,7. Untuk perdagangan hari ini sentimen positif yang dapat mendorongpenguatan indeks tidak terlalu signifikan. Semalam Dow Jones nyaris tidakbergerak yang hanya mencatat kenaikan sangat tipis sebesar 0,75 poin (0,01%).

Kenaikan indeks Dw Jones tertahan oleh pelemahan saham sektor keuangan. Sentimen dari bursa regional Asia Pasifik pada pagi ini juga kami lihat tidak kuat untuk dapat mendorong kenaikan indeks, antara lain ditandai oleh penurunan indeks Nikkei. Namun di sisi lain yang dapat menahan penurunan indeks hari ini adalah penguatan harga logam di LME yang cukup signifikan, terutama nikel dan timah. Begitu juga dengan kurs rupiah terhadap US$ yang masih stabil, saat ini berada di posisi Rp9.008 per US$. Sehingga untuk hari ini kami perkirakan indeks akan bergerak fluktuatif dengan potensi untuk dapat mengalami penurunan. Kami perkirakan hari ini indeks akan bergerak di kisaran 2920 sampai 2960.

Sunday, April 25, 2010

MORNING NEWS

IQPlus(26/4) - Bank Mandiri pada kuartal pertama 2010 membukukan laba

setelah pajak senilai Rp2 triliun atau naik 43,1 persen dibandingkan periode
sama sebelumnya Rp1,4 triliun. Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo,
di Jakarta, mengatakan naiknya laba tersebut didorong oleh naiknya pendapatan
bunga dan "fee based income" (pendapatan non bunga). Pendapatan bunga Mandiri
naik 5,5 persen dari Rp4,3 triliun pada kuartal pertama 2009 menjadi Rp4,6 triliun
pada kuartal pertama 2010. Sedangkan "fee based income" naik 24,2 persen menjadi
Rp1,49 triliun dibanding periode sama 2009 yang hanya mencapai Rp1,2 triliun.
Kondisi telah mendorong Mandiri mencatat laba operasi naik 30 persen dari Rp2 triliun
menjadi Rp2,62 triliun pada kuartal pertama 2010. Membaiknya kinerja Mandiri pada
tiga bulan pertama ini karena keberhasilan dalam meningkatkan penyaluran kredit
senilai Rp201,9 triliun atau naik 14,2 persen dibanding periode sama 2009 senilai
Rp176,9 triliun.

End(Ag)



IQPlus(26/4) - PT Bakrieland Development TBK (ELTY) mengikuti kegiatan
Indonesia Conference bersama JP Morgan di Jakarta pada 21-22 April 2010. Kegiatan
ini dalam rangka memberikan informasi mengenai kinerja dan prospek Perseroan.
Demikian disampaikan oleh Presiden Direktur dan CEO PT Bakrieland Development Tbk
Hiramsyah S. Thaib dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.

End(Ag)




Rumor Bursa
Benakat Bakal Akuisisi Apexindo

(inilah.com/Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta - PT Benakat Petroleum Energy Tbk (BIPI) kembali dikabarkan tertarik mengakuisisi sebuat perusahaan kontraktor minyak dan gas bumi (migas).

Kabar di pasar menyebutkan, perseroan ingin memperbesar bisnisnya dengan memiliki saham Elnusa dan perusahaan lainnya. Karena itu, harga BIPI akan dikerek ke posisi Rp500 jangka pendek.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan bursa akhir pekan lalu harga saham BIPI ditutup stagnan Rp230. [san/cms]




Rumor Bursa
Cermati Saham Jaya Real Property

(inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta - Beberapa broker dikabarkan mengakumulasi saham PT Jaya Real Property Tbk (JPRT), karena harganya masih cukup murah dengan price earning ratio (PER) cukup murah hanya 6,6 kali.

Kabar lain juga menyebutkan, kinerja perseroan semakin bagus seiring dengan membaiknya perekonomian nasional.

Pada penutupan perdagangan bursa akhir pekan lalu, harga saham JRPT ditutup turun Rp10 ke Rp810. [san/cms]





IHSG Berpeluang 'Rebound'
Akumulasi Saham ANTM & PGAS
Natascha & Asteria

(inilah.com/Agung Rajasa)

INILAH.COM, Jakarta – Di tengah peluang rebound-nya bursa, saham ANTM dan PGAS, Senin (26/4) bisa menjadi pilihan. Namun, trading sebaiknya dilakukan untuk saham lapis dua dan tiga.

Hendri Effendi, analis Citi Pacific Securities mengatakan, indeks hari ini masih berpeluang rebound. Meskipun market sudah tinggi, berdasarkan teknikal analisis, IHSG secara mingguan masih berada di atas moving average. “Ini berarti, ada kecenderungan indeks untuk menguat lebih lanjut,” katanya kepada INILAH.COM.

Kondisi fundamental dan rilisnya laporan keuangan beberapa emiten yang positif, akan mendongkrak bursa. Seperti kinerja saham PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Danamon (BDMN). Karena keduanya bagus, maka akan berimbas positif pada saham perbankan lainnya. “Demikian pula perbaikan kinerja PT Aneka Tambang (ANTM) yang akan mempengaruhi sektor tambang,” ujarnya.

Terkait pertumbuhan ekonomi global yang cenderung flat, Hendri belum menyarankan investor mengakumulasi saham secara agresif. Namun, khusus untuk investor yang berani ambil risiko, ia masih merekomendasikan trading di saham lapis dua dan tiga yang memiliki volume transaksi tinggi.

Salah satu emiten pilihannya adalah PT Alam Sutera Reality (ASRI). “Kenaikan saham sektor perbankan membuat sektor properti mulai aktif diperdagangkan. ASRI masih layak untuk trading,” paparnya.

Saham properti lain seperti PT Ciputra Development (CTRA) tidak disarankan mengingat harganya yang sudah tinggi. Adapun untuk PT Bakrieland Development (ELTY), investor sebaiknya menunggu hingga warannya jatuh tempo.

Hendri menuturkan, terkait weekly trend IHSG yang masih positif, maka beberapa saham unggulan masih bisa diakumulasi. Salah satu pilihannya adalah PT Perusahaan Gas Negara (PGAS). Hal ini terkait pembagian deviden yang cukup besar, dengan earning per share (EPS) sebesar Rp257,” Ini berarti dividen yang dibagikan sekitar Rp125 per saham,” ujarnya.

Dividen PGAS cukup besar, seiring kinerja perseroan sepanjang 2009 yang memuaskan. Adapun masalah turunnya pasokan batubara dari Conoco, belum akan terfaktorkan karena baru terjadi di kuartal pertama 2010.

Saham lain yang direkomendasikan Hendri adalah PT Aneka Tambang (ANTM). Untuk emiten ini, investor tidak terlalu banyak berharap pada pembagian dividen, meski kinerjanya pada kuartal pertama 2010 ini cukup memuaskan. Pasalnya, peningkatan profit emiten tambang logam ini akan digunakan untuk ekspansi.

Hingga kini, imbuhnya, ANTM bahkan masih kekurangan dana untuk ekspansi. Untuk menyiasati ini, perseroan akan melakukan rights issue. Hendri menilai, rights issue ini tidak akan menekan harga saham karena masih diduung haga komoditas yang tinggi.

Justru, penerbitan saham baru ini akan memperkuat struktur keuangan perseroan. Pasalnya, dengan DER yang sudah sangat rendah, right issue akan meningkatkan total ekuitas.”Sehingga kalau ANTM berencana menerbitkan obligasi setelah right issue, akan lebih mudah,” pungkasnya. [mdr]






BUMI Realisasi Jual Batubara 16 MT Di Q-1 2010
Agustina Melani

(inilah.com/Wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta - PT Bumi Resources Tbk mencatatkan penjualan batubara sekitar 16 metrik ton pada kuartal pertama 2010.

Hal itu disampaikan Senior Vice President Investor Relation PT Bumi Resources Tbk Dileep Srivastava lewat pesan singkat yang diterima INILAH.COM pada Minggu (25/4). Terkait target produksi batubara perseroan. Menurut Dileep, BUMI telah mencatat penjualan batubara sekitar 16 metrik ton pada kuartal pertama 2010.

Sedangkan pada kuartal pertama

2009, BUMI catatkan penjualan batubara 11,3 metrik ton.

"Biasanya pada kuartal pertama

adalah kuartal penuh tantangan

karena musim hujan. Kami yakin,

target BUMI sesuai track," ujar Dileep.

BUMI menargetkan penjualan batubara minimum 64 metrik ton pada 2010. BUMI mencatatkan penjualan sekitar 58 metrik ton pada 2009. Dileep mengklaim, perseroan termasuk produsen dan penjual batubara yang memproduksi dan menjual batubara paling besar. Perseroan akan mempublikasikan laporan keuangan kuartal pertama 2010 paling lambat pada akhir Mei 2010.[cms]




Senin, 26 April 2010 | 07:14

KOMODITAS

Batubara Mencetak Rekor Tertinggi



JAKARTA. Harga batubara kembali memanas. Pada Jumat (23/4) pekan lalu, harga kontrak batubara Newcastle ICE Futures untuk pengiriman Mei 2010 naik 2,82% menjadi US$ 105,8 per ton. Ini adalah rekor tertinggi harga batubara dalam setahun terakhir.
Pada saat yang sama, merujuk indeks harga spot batubara mingguan Globalcoal di Newcastle, harga komoditas energi ini juga naik 1,93% ke US$ 100,18 per ton.

Tak hanya batubara Newcastle, kontrak batubara lainnya di ICE Futures naik dalam lima hari berturut-turut. Misalnya, batubara Rotterdam ICE Futures untuk pengiriman Juni 2010 ditutup US$ 84,05 per ton, Jumat lalu. Harga ini melompat 9,65% dibandingkan sepekan sebelumnya yang senilai US$ 76,65 per ton.

Ibrahim, analis Asia Kapitalindo Futures, menyebutkan, saat ini permintaan batubara terus menanjak. "Ada badai tropis yang menghambat proses pengapalan batubara," katanya, kemarin.

Hambatan pengapalan inilah yang menjadi salah satu penyebab harga batubara terus merangkak naik. Bahkan, pada saat harga minyak mentah terkoreksi, harga batubara tetap saja memanas.

Selain pasokan tersendat, meningkatnya permintaan batubara di Amerika Serikat turut mengangkat harga batubara dunia. Riset Genscape Inc. seperti dikutip Bloomberg, menyebutkan bahwa konsumsi batubara di AS naik 1,9% selama pekan lalu. Dalam proses risetnya, Genscape memantau penggunaan batubara pada pembangkit listrik di negara Uwak Sam itu dengan memasang alat ke pembangkit listrik.

Pasar berjangka marak

Ibrahim memperkirakan, hingga akhir semester pertama tahun ini harga batubara Rotterdam bisa menyentuh US$ 100 per ton. Adapun harga kontrak batubara Newcastle di bursa ICE bisa mencapai US$ 150 per ton. "Saat ini pun banyak kontrak pengiriman batubara perusahaan-perusahaan Australia dan Indonesia ke wilayah China dengan harga lebih dari US$ 100 per ton," kata dia.

Membaiknya permintaan di lapangan memang ikut menyemarakkan perdagangan berjangka batubara di bursa ICE. Pada 14 April 2010, ICE Futures mencetak rekor terbaru transaksi dengan total perdagangan 15.410 lot, atau lebih dari 15 juta ton batubara dalam sehari perdagangan.

Kontrak perdagangan terbesar diduduki ICE Rotterdam Coal Futures dengan total volume sebanyak 13.665 lot. Adapun kontrak perdagangan ICE Richards Bay dan Newcastle masing-masing sebanyak 1.415 lot dan 330 lot pada hari yang sama.

Wahyu Tri Rahmawati





Jasa Marga Raih Pendapatan Rp1 Triliun
Senin, 26 April 2010 - 07:21 wib


JAKARTA - PT Jasa Marga Tbk (JSMR) pada kuartal I/2010 membukukan pendapatan mencapai Rp1 triliun, tumbuh 20 persen dari Rp833 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan pendapatan tersebut,terutama disebabkan oleh peningkatan volume lalu lintas sebesar 3,07 persen pada tiga bulan pertama 2010, menjadi 226,5 juta transaksi.

"Kuartal I-2010 ini, pendapatan kami mengalami pertumbuhan 20 persen menjadi Rp1 triliun. Itu disebabkan meningkatnya jumlah traffic pada periode tiga bulan pertama 2010 ini," ujar Direktur Keuangan Jasa Marga Reynaldi Hermansjah di Jakarta.

Reynaldi mengatakan, peningkatan lalu lintas tersebut terutama disebabkan adanya tambahan pemasukan dari ruas Bogor Ring Road, yang telah beroperasi optimal awal tahun ini. Bogor Ring Road seksi I, yang mencakup ruas Sentul Selatan–Kedung Halang sepanjang 3,8 km diluncurkan pada 23 November 2009.

Dengan demikian,pada awal tahun ini,ruas tersebut telah mampu memberikan kontribusi yang cukup besar. Di mana kontribusinya itu, telah mencapai Rp5 miliar dalam periode tiga bulan pertama tahun ini. "Bogor Ring Road memberikan kontribusi pendapatan usaha bagi perseroan kurang lebih Rp5 miliar dengan capaian rata-rata lalu lintas sebesar 17.500 kendaraan per hari," paparnya.

Kontribusi ruas tol tersebut, diharapkan akan terus meningkat hingga akhir tahun seiring meningkatnya lalu lintas di wilayah tersebut. Selain ruas tol tersebut, tahun ini perseroan juga akan mengoperasikan dua ruas tol baru, yaitu Semarang-Solo tahap I dan Surabaya-Mojokerto tahap I.

"Diharapkan dua ruas tol itu bisa memberikan kontribusi terhadap pendapatan usaha pada semester II-2010," tandas Reynaldi.

Untuk pembangunan tol Surabaya-Mojokerto seksi I-A ruas Waru-Sepanjang berjarak 2,3 kilometer itu merupakan tahap awal dari proyek tol Surabaya-Mojokerto,sepanjang 36,27 km.Tol yang melintasi kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto itu ditargetkan bisa beroperasi dan memberi pemasukan pada semester II-2010.

Pertumbuhan yang dialami perseroan pada kuartal I-2010 ini, melanjutkan kinerja baik perseroan yang dibukukan tahun lalu.Pada periode 2009, Jasa Marga tercatat membukukan laba bersih hingga Rp992,694 miliar, meningkat 41 persen dibanding tahun 2008 sebesar Rp707,797 miliar. Peningkatan tersebut, dikarenakan adanya kenaikan pendapatan usaha perseroan selama periode 2009, sebesar 10 persen menjadi Rp3,692 triliun dari Rp3,353 triliun di 2008.

Untuk lalu lintas, perseroan tahun lalu mencatatkan sebanyak 916,48 juta kendaraan atau meningkat 4,14 persen dari 880,057 juta kendaraan pada 2008. Menurut Direktur Utama Jasa Marga, Frans Sunito, perbaikan kinerja juga ditunjang adanya inovasi yang dilakukan perseroan di antaranya melalui penggunaan E-toll card yang telah dimulai tahun lalu.

"Pengguna E-toll card yang melintas di jalan tol saat ini sudah mencapai sekitar 24.000 kendaraan per hari pada ruas tol dalam kota dan tol bandara," ungkapnya.

Secara bertahap, penggunaan alat bayar elektronik itu akan diterapkan di ruas tol lainnya sehingga pada tahun 2011, E-toll card sudah dapat dipergunakan di seluruh ruas tol yang dikelola Jasa Marga. Jasa Marga saat ini telah mengoperasikan jalan tol sepanjang 531 km atau 76 persen dari seluruh ruas tol yang beroperasi di Indonesia.(Juni Triyanto /Koran SI/wdi)

KINERJA GRUP BHAKTI

Laba BMTR dan MNCN Naik di Atas 150%


JAKARTA. Pada kuartal pertama tahun 2010, kinerja emiten yang berada di bawah payung PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) meningkat signifikan. Mereka adalah PT Global Mediacom Tbk (BMTR) dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).

Laba bersih BMTR pada kurtal I 2010 melambung 267,33% menjadi Rp 152 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu, yang sebesar Rp 41,38 miliar. Kenaikan laba bersih tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan dari Rp 1,18 triliun menjadi Rp 1,35 triliun alias naik 14,41%.

Pendapatan terbesar BMTR dikontribusi oleh anak usahanya yang berbasis media, yakni PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN). Pendapatan MNCN pada kuartal I 2010 tumbuh 16% menjadi Rp 1,01 triliun alias naik 16%. Sumbangan lainnya adalah pendapatan media berbasis pelanggan (Indovision) yang meningkat 26% jadi Rp 315 miliar.

Alhasil, laba usaha BMTR melambung hingga 99% dari Rp 175 miliar menjadi Rp 348 miliar pada akhir Maret 2010. Sedangkan laba sebelum bunga, pajak dan amortisasi (EBITDA) meningkat 70% menjadi Rp 464 miliar.

Dalam surat keterbukaan informasinya, kemarin (25/4), manajemen BMTR menyatakan kenaikan laba usaha dan EBITDA disebabkan peningkatan pelanggan dan penurunan biaya program seiring penguatan nilai tukar rupiah.

Sementara itu, laba bersih MNCN selama kuartal satu 2010 meroket 191% menjadi Rp 192 miliar. Pendapatan iklan mendominasi pendapatan MNCN, yakni sebesar Rp 711 miliar. Sedangkan pendapatan konten dan value added services (VAS) Rp 222 miliar.

Direktur Reliance Securities Stefanus P. Susanto menilai, peningkatan kinerja Grup Bhakti sesuai dengan ekpektasi pasar. Menurutnya, kinerja BMTR dan MNCN mecerminkan kondisi perekonomian Indonesia tahun ini yang lebih bagus. "Dengan kondisi ekonomi yang baik, perusahaan yang beriklan juga semakin banyak," imbuhnya.

Peningkatan pendapatan BMTR berasal dari bertambahnya jumlah pelanggan televisi berbayar Indovision dan Top TV. Sedangkan pada perdagangan akhir pekan lalu, harga saham BMTR naik 8,97% menjadi Rp 425 per saham.

Thursday, April 22, 2010

MORNING NEWS

QPlus(23/4) - Harga minyak dunia bervariasi pada Kamis, karena pedagang
terfokus pada melemahnya data permintaan dari Amerika Serikat, konsumen energi
terbesar di dunia. Kontrak utama New York, minyak mentah light sweet untuk pengiriman
Juni, naik dua sen menjadi 83,70 dolar per barel. Minyak mentah Brent North Sea untuk
penyerahan Juni menyusut tiga sen menjadi 83,70 dolar di perdagangan New York.

End(Ag)



PROYEKSI HARGA CPO

Kebangkitan Minyak Mentah Turut Dongkrak Harga CPO


JAKARTA. Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali merangkak naik. Sampai pukul 17.00 WIB kemarin (22/4), harga CPO untuk pengiriman Mei 2010 di Bursa Derivatif Malaysia (MDEX) naik 0,61% menjadi US$ 785,25 per ton.

Salah satu pemicu kebangkitan harga CPO adalah kenaikan harga minyak mentah ke level US$ 84 per barel, setelah turun di awal pekan lalu.

Ibrahim, analis Asia Kapitalindo Futures, mengatakan hingga semester pertama tahun ini harga CPO bisa menyentuh level US$ 800 per ton. Jika angka itu terlampaui, harganya berpeluang menuju US$ 850 per ton.

Selain dipengaruhi laju harga minyak mentah, menurut Ibrahim, secara fundamental kenaikan harga CPO juga didorong permintaan minyak sawit yang masih bagus.

Sepanjang 2010, harga tertinggi CPO pernah mencapai US$ 803,5 per ton. Harga komoditas tersebut di sepanjang kuartal satu 2010 lebih tinggi dari periode sama tahun lalu. Hal ini pula yang membuat kinerja emiten produsen CPO mulai membaik. Misalnya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Selama kuartal I-2010, anggota Grup Astra ini menikmati kenaikan harga jual CPO sebesar 19,1% menjadi Rp 6.544 per kilogram dari semula Rp 5.494 per kg.

China National Grain and Oils Information Center, seperti dikutip Bloomberg, melaporkan pengiriman CPO dari Malaysia ke China dalam periode 1 April hingga 20 April turun ke level terendahnya tahun ini. Hal tersebut dipicu penurunan permintaan dan berlimpahnya stok CPO di China.

Pada periode 1 April-20 April, pengiriman CPO ke China sebanyak 173.000 ton, turun 27% dari periode yang sama di bulan sebelumnya. Ibrahim berpendapat, penurunan permintaan China tak terlalu besar asalkan permintaan dari India dan Jepang tidak ikut merosot.

Wahyu Tri Rahmawati



PROYEKSI IHSG

Peluang Menanjak Lagi


JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum berhenti mengukir sejarah. Kemarin (22/4), IHSG meningkat 0,47% menuju 2.926,53. Artinya, dalam dua hari berturut-turut indeks mencetak angka tertingginya sepanjang masa.

Empat saham perbankan, yakni Bank BRI, Bank BNI, Bank CIMB Niaga, dan Bank International Indonesia turut menopang laju IHSG.
Chandra, analis E-Trading Securities, berpendapat para investor memandang positif kinerja emiten perbankan selama kuartal satu 2010 yang sudah dan akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. "Pada hari ini (23/4), saya memperkirakan saham-saham bluechip (unggulan) masih akan menjadi pemicu kenaikan indeks," ujarnya.

Analis AM Capital, Yustian Hartono, melihat beberapa saham emiten pertambangan batubara dan perkebunan berpotensi menjadi penggerak bursa pada perdagangan hari ini. "Saham sejumlah emiten seperti AALI, SGRO, UNTR dan PTBA patut dicermati," katanya. Meski begitu, para investor perlu mewaspadai aksi profit taking di akhir pekan ini.

Yustian menebak, hari ini IHSG berada di level 2.900-2.975. Adapun Chandra melihat, IHSG bergerak di 2.880-2.950. "Hasil laporan keuangan kuartal I masih menjadi sentimen positif bursa," ujarnya.

Avanty Nurdiana




IQPlus(23/4) - PT Indosat Tbk mencatat laba laba bersih kuartal I 2010 sebesar
Rp285,9 miliar, tumbuh 139,2 persen atau Rp119,5 miliar dari periode sama 2009. "Pencapaian
pertumbuhan ini didorong perbaikan parameter operasional perusahaan," kata Presiden Direktur
Indosat, Harry Sasongko,di Jakarta, Kamis. Selama tiga bulan pertama 2010, perseroan membukukan
pendapatan Rp4,73 triliun, naik tipis 2,5 persen dari sebelumnya Rp4,616 triliun. Beban usaha
melonjak 11,4 persen menjadi Rp3,968 triliun dari sebelumnya Rp3,56 triliun. Adapun rasio laba
bersih sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) tercatat Rp 2,244 triliun, naik
3,3 persen dari sebelumnya Rp2,173 triliun. Dengan demikian, marjin EBITDA tercatat 47,13 persen,
naik 0,3 poin dari sebelumnya 47,1 persen.
Selama tiga bulan pertama pula, anak perusahaan Qatar Telecom ini memperoleh tambahan
pelanggan 5,98 juta nomor. Total jumlah pada akhir Maret 2010 menjadi 39,1 juta nomor, atau melonjak
17,6 persen dari akhir Desember 2009 sebanyak 33,3 pelanggan. Meskipun dinamika musiman yang biasanya
menghambat kinerja pada setiap kuartal I tahun berjalan, namun ini sebagai awal yang baik untuk
Indosat dalam mengawali tahun. Posisi utang per akhir Maret 2010 mencapai Rp24,937 triliun, meningkat
8,6 persen dari sebelumnya Rp22,970 triliun.

End(Ag)




DIVIDEN

PGAS Bagi Dividen Minimal 50% dari Laba 2009



JAKARTA. Meski pemerintah masih membahas porsi dividen yang akan ditarik dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) siap membagikan dividen cukup besar. "Minimal 50%," kata Hendri Prio Santosa, Direktur Utama PGAS, kemarin.

Jadi, jika laba bersih 2009 PGAS mencapai Rp 6,2 triliun maka dividen yang akan dibagikan Rp 3,2 triliun. Jumlah ini setara dengan Rp 132 per saham.

Sekedar perbandingan, tahun lalu PGAS membagikan dividen mencapai Rp 1 triliun. Jumlahnya jauh lebih besar dari laba bersih yang diraup tahun 2008 yaitu Rp 633,86 miliar.

Abdul Wahid Fauzi




EKSPANSI ADHI KARYA

ADHI Bidik Tiga Proyek Baru Senilai Rp 25,5 Triliun



JAKARTA. Di usianya yang ke-50 tahun, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) terus menggelar ekspansi usaha. Perusahaan konstruksi pelat merah ini tengah mengincar tiga proyek konstruksi Engineering Procurement Construction (EPC) dengan total nilai investasi Rp 25,5 triliun.

Presiden Direktur ADHI Bambang Triwibowo mengungkapkan, pihaknya tengah mengikuti tender tahap awal untuk tiga proyek tersebut. Dua proyek EPC adalah pembangunan kilang minyak milik Exxon Mobil di Blok Cepu untuk Paket Satu dan Paket Lima. "Paket Satu nilainya Rp 12 triliun, sedangkan Paket Lima sekitar Rp 1,2 triliun," katanya, kemarin (22/4).

Sedangkan satu proyek lagi adalah tender penambahan kilang RFCC di Cilacap. Nilai proyeknya Rp 12 triliun. ADHI menggandeng perusahaan asal Korea Selatan yang telah berpengalaman di bidang EPC untuk tender kilang minyak di Cepu. "Komposisi kepemilikannya, kami 45% dan sisanya investor Korea," ujar Bambang. Sedangkan modal kerja yang dibutuhkan hanya 10% hingga 12% dari total nilai proyek.

Direktur Keuangan ADHI Supardi menambahkan, perusahaan Korea ini bisa memberikan nilai plus bagi ADHI untuk bersaing mendapatkan proyek itu. Apalagi, ini adalah proyek minyak terbesar yang mau dimenangkan ADHI.

Di proyek Cepu Paket Satu, ADHI harus bersaing dengan delapan perusahaan asing lain. "Kalau yang Paket Lima, ada tiga kontraktor termasuk kami yang lolos," ujar Bambang. Sedangkan proyek di Cilacap, Adhi Karya berebut dengan empat kontraktor.

Ekspansi usaha itu demi mencapai target kontrak senilai Rp 15,6 triliun pada tahun ini. Dari jumlah itu, sebesar Rp 5,75 triliun merupakan kontrak bawaan tahun 2009, dan Rp 9,87 triliun merupakan kontrak baru. Hingga kini, ADHI telah memperoleh kontrak baru Rp 808 miliar. Sedangkan pendapatan kuartal satu 2010 ADHI sebesar Rp 957 miliar. Namun, laba bersihnya melorot menjadi Rp 4 miliar.

Anna Suci Perwitasari






Saham GPRA Dikerek ke 200


INILAH.COM, Jakarta - PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) dikabarkan menerbitkan obligasi untuk membiayai ekspansi usaha yaitu pengembangan lahan di Serpong, Tangerang Selatan.

Pembeli siaga obligasi tersebut dikabarkan Dubai Fund. Perusahaan tersebut salah satu pemegang saham GPRA. Dengan rencana ekspansi usaha dan target kinerja perseroan, saham GPRA akan dikerek ke level Rp200.

Pada perdagangan Kamis (22/4), saham GPRA ditutup pada level 162 dengan total saham yang ditransaksikan sebanyak 5,3 juta lembar senilai Rp861 juta.

Seperti diketahui, perseroan mencatatkan laba bersih konsolidasi 2009 sebesar 152% menjadi Rp28,661 miliar dari sebelumnya Rp11,370 miliar. Pencapaian laba bersih didukung pendapatan sport club sekitar 104,39% menjadi Rp3,346 miliar dari sebelumnya hanya Rp1,637 miliar. [cms]






Saham BBLD Menuju Rp350


INILAH.COM, Jakarta - PT Buana Finance Tbk (BBLD) dikabarkan akan menjalin kerjasama dengan salah satu anak usaha grup Astra yang bergerak di usaha pengadaan alat berat.

Saat ini anak usaha Astra tersebut mendapatkan pesanan untuk pengembangan infrastruktur di kawasan Indonesia Timur. Dengan kerjasama tersebut saham BBLD dikabarkan akan dikerek ke level Rp300-350.

Pada perdagangan saham Kamis (22/4), saham BBLD ditutup pada level 280 dengan jumlah saham yang ditransaksikan mencapai 4,2 juta senilai Rp1,14 miliar. [cms]

Wednesday, April 21, 2010

Harga Saham Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM)

Below harga saham Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM)




































































































































FromLast1 Mth Ago3 Mth Ago6 Mth Ago12 Mth AgoYTD
First. Date26-03-201001-03-201028-12-200928-09-200927-03-200904-01-2010
First2,1502,0752,1252,4751,1502,200
Hi.Date26-03-201019-03-201011-01-201008-10-200913-08-200911-01-2010
Highest2,2252,2502,4002,7252,7752,400
Lo.Date26-03-201001-03-201009-02-201009-02-201031-03-200909-02-2010
Lowest2,1252,0501,9201,9201,0801,920
Last.Date26-03-201026-03-201026-03-201026-03-201026-03-201026-03-2010
Last2,1752,1752,1752,1752,1752,175
From High-50-75-225-550-600-225
% From High-2.25%-3.33%-9.38%-20.18%-21.62%-9.38%
From Low501252552551,095255
% From Low2.35%6.10%13.28%13.28%101.39%13.28%
Avg.Vol32,291,50022,367,00024,251,22127,953,20555,806,47524,579,466

ANTAM’S AUDITED NET PROFIT AMOUNTS TO RP604.3 BILLION IN 2009 Home News, Reports and Events News Releases





Jakarta, March 22, 2010 – PT Antam Tbk (IDX – ANTM; ASX – ATM) announces today consolidated audited net profit of Rp604.3 billion for full year 2009, a decrease of 56% over the previous corresponding period, due largely to decreased nickel sales and prices. Antam has previously anticipated lower performance in 2009 as global economic crisis lowered nickel demand and prices. As such, Antam lowered its ferronickel and nickel ore production and sales targets for 2009 compared to 2008 actual performance.

Antam’s President Director Alwin Syah Loebis said:



Inline with the global economic crisis which lowered nickel demand and prices at the beginning of 2009, we lowered our ferronickel and nickel ore production and sales targets in 2009. We have accelerated the optimisation program of the FeNi III smelter and implemented agressive cost reduction program to better anticipate lower nickel prices. We were able to save more than Rp220 billion from effienciency programs as well as contracts renegotiation with our suppliers. In 2010, we will target higher ferronickel and nickel ore production and sales in line with improved demand and sales prices.


SALES REVENUE


Antam’s sales revenue decreased 9% to Rp8,711 billion due to lower nickel prices and sales. Nickel prices decreased 32% to US$6.77 per lb. due to a global economic crisis which lowered nickel demand. The decreased global demand also lowered demand for Antam’s ferronickel and nickel ore. On the contrary, gold demand and prices increased sharply amidst decreased value of the US Dollar and increased global insecurity. Despite higher gold demand, Antam was unable to raise its gold production given the constraints of the underground gold mining at Pongkor mine. Gold was Antam’s biggest contributor in terms of sales in 2009 with a value of Rp4,321 billion or a 58% increase over 2008.


Antam’s gold segment (gold, silver and precious metal refinery services) generated Rp4,786 billion in revenues in 2009, an increase of 64% over 2008. The gold segment accounted for 55% of Antam’s total revenues in 2009. Gold sales increased 31% to 12,893 kg due to increased demand. In 2009, gold production reached 2,626 kg, below the company’s target of 2,821 kg due to lower grades. Due to lower gold production, silver production in 2009 reached 22,589 kg, a decrease of 11% over 2008. Although Antam’s gold and silver increased significantly, this was not reflected in the profitability margins as 80% of gold and silver sales came from trading activities. However, due to increased sales volume and price, revenue from gold increased 58% over 2008 to Rp4,321 billion. Antam’s realised gold price of US$970.97 per toz. was an 11% increase over 2008. Sales of silver rose 153% to 87,187 kg inline with higher trading activities. Higher sales volume coupled with a 5% increase of silver price of US$15.01 per toz. resulted in revenue from silver rising 174% over 2008 to Rp429 billion.


In 2010 Antam expects gold production of 2,580 kg and additional 500 kg from Cibaliung Project as well as total sales of 7,980 kg, including trading, respectively. Antam will target silver production and sales of 23,474 kg and 50,494 kg, including trading, respectively, in 2010.


Antam’s sales of contained nickel decreased 17% over 2008 to 14,191 tonnes. Actual sales were higher than the annual target of 14,000 tonnes. Antam’s production of ferronickel reached 12,550 tonnes of contained nickel in ferronickel. Actual ferronickel production exceeded projection of 12,000 tonnes of contained nickel in ferronickel due to consistent power output following the optimisation on FeNi III smelter. Antam currently operates the FeNi III smelter at 90% of maximum capacity. Due to the lower sales and a 32% lower average selling price of US$6.77 per lb., revenue from ferronickel decreased in 2009 by 39% to Rp2,147 billion.


In 2009, Antam produced 3,249,413 wmt of high grade nickel ore and 2,601,916 wmt of low grade nickel ore, totaling 5,851,239 wmt. Annual production of nickel ore exceeded internal target of 5.1 million wmt, albeit an 11% lower over 2008. Antam’s sales of high grade nickel ore and low grade nickel ore amounted to 3,323,876 wmt and 1,577,823 wmt, respectively. Total nickel ore sales of 4,901,699 wmt exceeded internal target of 4.3 million wmt albeit an 8% lower compared to 2008. Inline with lower sales volume and prices, revenue from nickel ore decreased 43% to Rp1,696 billion over 2008.


In 2010, inline with higher expectation of nickel demand and improved capacity of Antam’s FeNi III smelter, Antam expects ferronickel production of 18,500 tonnes with sales of 19,000 tonnes. Antam targets nickel ore production of 6.15 million wmt consisting of 3.5 million wmt of high grade nickel ore and 2.65 million wmt of low grade nickel ore. Sales of nickel ore is estimated at 5.35 million wmt consisting of 3.5 million wmt of high grade ore and 1.85 million wmt of low grade ore.


Antam’s bauxite commodity generated Rp79 billion in sales, contributing 1% to Antam’s consolidated revenues. At the end of 2009 Antam ceased mining activities at Kijang bauxite mine due to the depletion of bauxite reserves.



COST OF SALES


The cost of sales rose 8% to Rp7,513 billion. The main factor for the increase was increased costs related to precious metals trading. The other four main components of the cost of sales were ore mining services, fuel, depreciation and materials.


Costs related to precious metals purchase, the largest cost component, rose 93% to Rp3,783 billion inline with increased trading activities of Antam’s gold and silver. Around 80% of Antam’s gold and silver sales in 2009 came from purchasing gold from third parties. Costs related to precious metals purchase accounted for 51% of total production cost (Antam’s cost of sales before adjustments for inventories).


The second largest cost component was from ore mining services, which decreased 23% to Rp1,015 billion due to lower mining services tariff and nickel ore production, respectively. Ore mining services accounted for 14% of Antam’s production cost.


As Antam produced less ferronickel in 2009 and coupled with lower MFO and IDO prices, total fuel cost, the third largest cost component after ore mining, decreased by 39% to Rp612 billion. Fuel accounted for 8% of Antam’s production cost. Around 98% of total fuel was consumed at Pomalaa to process nickel ore into ferronickel. In 2009 Antam consumed almost 113 million litres of fuel, with 94% in the form of Marine Fuel Oil (MFO). Antam also uses Industrial Diesel Oil (IDO) and High Speed Diesel (HSD). The average price of MFO was 13% lower over 2008 at Rp4,615 per litre while the average price of IDO also fell 37% to Rp5,371 per litre.


Antam’s depreciation costs increased 7% to Rp511 billion. The largest depreciation charges came from machinery depreciation at Pomalaa and accounted for 73% of Antam’s total depreciation costs. Depreciation at the Pongkor gold mine accounted for 26% of Antam’s total depreciation costs.


Materials costs decreased by 41% to Rp462 billion due to lower ferronickel production. Materials are associated with consumables related to ferronickel production.



GROSS PROFIT AND MARGIN


Inline with lower revenue and higher cost of sales, Antam’s gross profit decreased by 55% over 2008 to Rp1,198 billion. As such, Antam’s gross margin was lowered to 14% from 28% in 2008.



OPERATING EXPENSES


Antam’s operating expenses decreased 35% to Rp610 billion. The main factor for the decrease was the expense for exploration, which decreased 53% to Rp64 billion and a 48% lower sales and marketing expenses to Rp78 billion. General and administrative expenses were 28% lower at Rp468 billion. Lower sales and marketing expenses was due to lower ferronickel sales, as well as lower shipping tariffs due to lower fuel prices. Lower general and administrative expenses were due to a 15% reduction of labor costs at Rp180 billion.



OPERATING PROFIT AND MARGIN


Antam’s operating profit decreased by 66% over 2008 to Rp588 billion. As such, Antam’s operating margin was lowered to 7% from 18% in 2008.



OTHER INCOME


Antam’s Other Income decreased 3% to Rp196 billion compared to the Rp202 billion of 2008. The main reason for the decrease was due to increased finance charges related to translational foreign exchange losses. Antam booked foreign exchange losses due to larger US dollar assets and as the Rupiah strengthened in 2009, it had the effect of making Antam’s US dollar assets worth less in Rupiah terms. Antam posted a Rp287 billion of finance charges compared to Rp218 billion of charges in 2008. Antam’s dividend income from its JV with Newcrest Australia, PT Nusa Halmahera Minerals, increased 27% over 2008 to Rp227 billion. Antam also received Rp119 billion from claims and penalties.



NET PROFIT AND MARGIN


Antam’s net profit of Rp604.3 billion was 56% lower over 2008. Antam’s net margin of 7% was lower compared to 14% in 2008.



BALANCE SHEET



TOTAL ASSETS


Antam’s total assets decreased 3% over 2008 to Rp9,940 billion in line with the 7% decrease in curent assets to Rp5,437 billion. In 2009, Antam’s current assets and non current assets amounted to Rp4,503 billion and Rp4,426 billion, respectively.



CURRENT ASSETS


Due to the 15% decrease in cash to Rp2,774 billion as well as a 16% decrease in inventories to Rp1,170 billion, albeit higher trade receivables, other receivables and prepaid taxes, Antam’s current assets decreased 7% to Rp5,437 billion.


Inline with the strong cash position of Rp2,774 billion, Antam is ready to accelerate its projects as well as other initiatives to grow. Antam held Rp2,306 billion of 83% of its cash in time deposits in several local and international banks. Around 90% of Antam’s cash was denominated in US Dollars, 6% was denominated in Rupiah and the rest was denominated in Australian Dollars. This is inline with Antam’s strategy to maintain its financial and liquidity position through placements in less risky, liquid with solid return investments. Antam’s cash was mostly denominated in US Dollar as most of Antam’s revenue is denominated in the same currency. Inline with the 14% depreciation of US Dollar against the Rupiah to Rp9,400 per US$1, Antam posted a Rp249 billion effect of translational foreign exchange rate fluctuation on its cash holding.


Third party trade receivables increased 37% to Rp818 billion inline with increased receivables from Pohang Iron and Steel Co., Raznoimport Nickel (UK) Limited, Tricell (HK) Ltd. and Mitsui and Co. Antam believes the allowance for doubtful accounts are sufficient to cover the possibility of the non collectibility of outstanding accounts.


Inventories decreased 16% to Rp1,171 billion resulting from a 60% decreased ferronickel inventory to Rp264 billion as ferronickel sales volume surpassed production volume. Antam posted higher inventories of gold, silver, nickel ore and bauxite. However, these increases could not offset the fall of ferronickel inventories.


Antam’s prepaid taxes consisted of value added taxes which rose 26% to Rp163 billion due to higher goods and services purchases which included purchases related to the optimisation of FeNi III smelter and new equipments at the Pongkor gold mine.



NON CURRENT ASSETS


Antam’s non current assets rose 2% to Rp4,503 billion over Rp4,425 billion in 2008 inline with increases in deferred exploration and development expenditures and estimated claims for tax refund. These increases were not offset by the decrease of investments in shares of stocks and goodwill. Antam’s fixed assets were relatively unchanged at Rp2,891 billion.


Deferred exploration and development expenditures rose 25% to Rp781 billion due to increased exploration activities at Cibaliung, Pongkor, and Tanjung Buli. Antam’s estimate for tax claim refund rose 4% to Rp281 billion.


Investments in shares of stock decreased by 21% to Rp73 billion. Investments in shares of stock consisted of Tango Mining Pte. Ltd. (in liquidation process), PT Meratus Jaya Iron and Steel (Antam’s joint project with PT Krakatau Steel to develop sponge iron in South Kalimantan) and PT Nusa Halmahera Minerals (Antam’s gold joint venture with Newcrest Australia in which Antam owns 17.5%).



TOTAL LIABILITIES


Antam’s total liabilities decreased 18% to Rp1,748 billion due to a 29% lower non current liabilities of Rp1,001 billion albeit a 4% rise in current liabilities to Rp747 billion.



CURRENT LIABILITIES


Antam’s current liabilities increased 4% to Rp747 billion due to 21% larger trade payables to Rp156 billion, 49% increase of other payables to Rp71 billion and 11% increase of accrued expenses to Rp227 billion albeit Antam’s current maturities of long term investment loans decreased by 6% to Rp240 billion and an 18% decrease at taxes payable at Rp16 billion.


On December 21, 2009, Antam refinanced its loan facilities of US$51 million which consisted of US$31 million from BCA and US$20 million from Bank Mandiri. Bank of Tokyo Mitsubishi – UFJ provided the financing facility. Antam executed the refinancing to save interests through a more competitive cost structure. The term of the refinancing facility is for 2 years with a two-years fixed rate of 3% per annum.



NON CURRENT LIABILITIES


Antam’s non current liabilities decreased by 29% to Rp1,001 billion inline with lower investment loans. Total invesment loans decreased 31% from US$74.3 million in 2008 to US$51 million in 2009 due to debt repayments. Pension and other post retirement obligations decreased 14% to Rp555 billion while provision for environmental and reclamation costs rose 9% to Rp158 billion.



TOTAL EQUITIES


Antam’s equities rose 1% to Rp8,149 billion compared to Rp8,063 billion in 2008.



CASH FLOW


Inline with lower production, sales and commodity prices, especially nickel, Antam’s net cash provided by operating activities decreased 12% to Rp1,004 billion. Inline with a Rp465 billion of cash for investing activities and a Rp800 billion of cash for financing activities, Antam’s cash amounted to to Rp2,774 billion in 2009.


In 2010 Antam plans to accelerate the implementation of its projects inline with the strong cash position as well as expectations of improved prices.



CASH FLOW FROM OPERATING ACTIVITIES


Antam’s net cash provided by operating activities decreased 12% to Rp1,004 billion due to a 22% decrease of cash receipts to customers to Rp8,338 billion albeit 4% lower payment to suppliers to Rp6,746 billion, lower payments to Commissioners, Directors and employees of 12% to Rp666 billion and 88% lower tax payments to Rp243 billion. In 2009 Antam posted cash receipts from income from penalty and insurance claim of Rp119 billion.



CASH FLOW FROM INVESTING ACTIVITIES


Antam’s net cash used in investing jumped 29% to Rp465 billion as Antam conducted the optimisation program on the FeNi III smelter and installed new equpments at the Pongkor gold mine. In 2009 acquisition of fixed assets rose 49% to Rp449 billion. Antam also posted Rp126 billion disbursements for exploration and development expenditures, Rp19 billion acquisitions of investments in shares of stock and Rp138 billion in dividend income.



CASH FLOW FROM FINANCING ACTIVITIES


Antam’s net cash used in financing activities decreased 66% to Rp800 billion largely due to lower payment of dividends. Payment of dividends dropped 73% over 2008 to Rp547 billion due to lower 2008 net profit. Antam also posted Rp233 billion in repayment of long term borrowings and Rp20 billion of payment of allocation for partnership and community development program.

Tuesday, September 8, 2009

REKOMENDASI HARI INI

ADRO , Rekom. : BUY dengan stoploss di 1350 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 1380 . Support II : 1280 , Support I : 1320 , Pivot : 1350 , Resist I : 1390 , Resist II : 1420 . Technical Notes : break resist

ASII , Rekom. : BUY dengan stoploss di 29500 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 29950 . Support II : 29150 , Support I : 29450 , Pivot : 29700 , Resist I : 30000 , Resist II : 30250 . Technical Notes : buying power after doji


BNBR , Rekom. : BUY dengan stoploss di 131 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 136 . Support II : 129 , Support I : 132 , Pivot : 134 , Resist I : 137 , Resist II : 139 . Technical Notes : rebound from support


BSDE , Rekom. : BUY dengan stoploss di 640 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 680 . Support II : 638 , Support I : 655 , Pivot : 668 , Resist I : 685 , Resist II : 698 . Technical Notes : rebound from support


BUMI , Rekom. : BUY dengan stoploss di 2950 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 3025 . Support II : 2844 , Support I : 2913 , Pivot : 2969 , Resist I : 3038 , Resist II : 3094 . Technical Notes : break trendline


ENRG , Rekom. : BUY dengan stoploss di 380 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 385 . Support II : 358 , Support I : 370 , Pivot : 378 , Resist I : 390 , Resist II : 398 . Technical Notes : break resist


INCO , Rekom. : BUY dengan stoploss di 4325 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 4375 . Support II : 4044 , Support I : 4188 , Pivot : 4294 , Resist I : 4438 , Resist II : 4544 . Technical Notes : break resist


INDF , Rekom. : BUY dengan stoploss di 2550 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 2650 . Support II : 2500 , Support I : 2550 , Pivot : 2600 , Resist I : 2650 , Resist II : 2700 . Technical Notes : rebound from support


AALI , Rekom. : Spec. BUY dengan stoploss di 21100 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 21550 . Support II : 20438 , Support I : 20925 , Pivot : 21238 , Resist I : 21725 , Resist II : 22038 . Technical Notes : near resist


ANTM , Rekom. : Spec. BUY dengan stoploss di 2450 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 2525 . Support II : 2131 , Support I : 2288 , Pivot : 2406 , Resist I : 2563 , Resist II : 2681 . Technical Notes : near resist


BBRI , Rekom. : Spec. BUY dengan stoploss di 7200 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 7300 . Support II : 7163 , Support I : 7225 , Pivot : 7263 , Resist I : 7325 , Resist II : 7363 . Technical Notes : near resist


ELTY , Rekom. : Spec. BUY dengan stoploss di 375 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 380 . Support II : 355 , Support I : 365 , Pivot : 375 , Resist I : 385 , Resist II : 395 . Technical Notes : near resist

LSIP , Rekom. : Spec. BUY dengan stoploss di 7550 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 7750 . Support II : 7425 , Support I : 7550 , Pivot : 7675 , Resist I : 7800 , Resist II : 7925 . Technical Notes : near resist


PGAS , Rekom. : Spec. BUY dengan stoploss di 3450 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 3475 . Support II : 3294 , Support I : 3363 , Pivot : 3419 , Resist I : 3488 , Resist II : 3544 . Technical Notes : near resist


PTBA , Rekom. : Spec. BUY dengan stoploss di 12900 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 13100 . Support II : 12575 , Support I : 12750 , Pivot : 12925 , Resist I : 13100 , Resist II : 13275 . Technical Notes : near resist


TINS , Rekom. : Spec. BUY dengan stoploss di 2125 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 2175 . Support II : 1956 , Support I : 2038 , Pivot : 2106 , Resist I : 2188 , Resist II : 2256 . Technical Notes : near resist


UNSP , Rekom. : Spec. BUY dengan stoploss di 860 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 880 . Support II : 815 , Support I : 840 , Pivot : 865 , Resist I : 890 , Resist II : 915 . Technical Notes : near resist


UNVR , Rekom. : Spec. BUY dengan stoploss di 10850 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 10900 . Support II : 10500 , Support I : 10700 , Pivot : 10900 , Resist I : 11100 , Resist II : 11300 . Technical Notes : doji at high


BMRI , Rekom. : HOLD dengan stoploss ketat di 4100 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 4150 . Support II : 4050 , Support I : 4100 , Pivot : 4150 , Resist I : 4200 , Resist II : 4250 . Technical Notes : doji at high


ITMG , Rekom. : HOLD dengan stoploss ketat di 23900 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 23950 . Support II : 23538 , Support I : 23775 , Pivot : 23938 , Resist I : 24175 , Resist II : 24338 . Technical Notes : sideways


TLKM , Rekom. : HOLD dengan stoploss ketat di 8400 dan kesempatan mengambil untung disekitar resist . Price : 8450 . Support II : 8388 , Support I : 8425 , Pivot : 8488 , Resist I : 8525 , Resist II : 8588 . Technical Notes : sideways